BREAKING NEWS
Tampilkan postingan dengan label KELUARGA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KELUARGA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 April 2014

Menyelesaikan Masalah dengan Pasangan Itu Mudah

(Ilustrasi)

Setiap keluarga pasti punya masalah, tidak ada satu pun keluarga yang tidak punya masalah.

Yang disebut dengan masalah adalah jarak yang terbentang antara realitas kita saat ini dengan idealitas yang kita inginkan. Kita tidak pernah berada dalam kondisi ideal, selalu saja ada jaraknya. Semakin jauh jarak tersebut, semakin besar masalah yang kita hadapi. Maka menyelesaikan masalah artinya mendekatkan kondisi kita hari ini dengan idealitas yang seharusnya kita miliki. Satu masalah terselesaikan, muncul masalah berikutnya. Begitulah watak kehidupan.

Pada kenyataannya, ada keluarga yang mudah sekali keluar dari masalah. Ada pula keluarga yang sangat sulit keluar dari masalah, bahkan ada pula keluarga yang tidak pernah bisa keluar dari masalah. Mereka terjebak dalam kubangan masalah demi masalah tanpa pernah bisa menguraikannya. Masalah datang silih bergenti tanpa diketahui mana ujung dan mana pangkalnya. Mereka terbebani oleh rangkaian permasalahan keluarga, yang pada akhirnya tidak mampu mempertahankan keutuhan rumah tangga. Bahtera rumah tangga mereka karam diterjang badai permasalahan.

Bagaimana Membuat Masalah Menjadi Mudah Diselesaikan?

Pertanyaan pentingnya adalah : siapakah yang membuat masalah hidup kita menjadi susah, dan siapa pula yang membuat masalah hidup kita menjadi mudah? Tentu saja tidak ada yang lain, kecuali diri kita sendiri. Demikian pula masalah dengan pasangan. Siapa yang menjadikan permasalahan suami istri menjadi mudah atau menjadi susah? Tidak ada lain kecuali suami dan istri itu sendiri.

Hidup berumah tangga itu tergantung bagaimana kita menjalaninya. Karena masalah selalu hadir dalam kehidupan kita, maka tergantung kita mau menjadikan masalah itu sebagai mudah atau sebagai susah. Jika kita menjadikan masalah yang muncul dengan pasangan menjadi susah, maka memang akan terasa sangat susah. Namun jika kita menjadikan masalah yang muncul dengan pasangan menjadi mudah, maka semua sangat ringan dirasakan dan mudah diselesaikan.

Kuncinya ada pada diri kita sendiri.

1. Selalu Berpikir dan Bersikap Positif

Hendaknya suami dan istri selalu berpikir positif dalam memandang segala sesuatu. Semua kejadian dalam hidup selalu ada hikmah yang positif jika pandai mengambilnya. Tidak ada kejadian yang sia-sia selama kita mampu mengambil hikmah terbaiknya. Bahkan dari kegagalan, dari kesalahan, dari kesusahan, semua selalu ada sisi positif yang akan mendewasakan kehidupan kita. Yang penting mampu berpikir dan bersikap positif dalam kehidupan.

Apalagi dalam menghadapi dinamika hidup berumah tangga dengan pasangan. Selalu saja ada persoalan yang datang menghadang. Besar atau kecil, berat atau ringan, itu sangat relatif dan sangat subyektif. Yang paling utama adalah pikiran dan sikap yang selalu positif dalam menghadapi segala sesuatu. Dengan berpikir dan bersikap positif, suami dan istri akan selalu berada dalam suasana interaksi yang penuh kedewasaan dan diliputi kebijaksanaan. Tidak mudah emosi, tidak mudah marah, tidak mudah tersinggung, dan semua masalah menjadi mudah diselesaikan.

2. Tidak Meributkan Hal-hal Kecil
Sangat banyak hal-hal kecil yang sering menjadi kerikil tajam dalam perjalanan hidup berumah tangga. Manusia sangat jarang menabrak batu yang besar, karena jelas-jelas kelihatan sehingga mudah untuk dihindari. Namun sangat sering manusia terpeleset oleh bebatuan kecil atau kerikil, karena tidak tampak. Dalam komunikasi dan interaksi suami dan istri, sering dijumpai hal-hal kecil yang membuat keributan besar. Urusan-urusan sepele yang dibesar-besarkan.

Hanya karena salah omong, hanya karena lambat menjawab pertanyaan, hanya karena lambat melayani, hanya karena salah dengar, hanya karena tindakan yang tidak sengaja, ternyata memicu keributan dan ketegangan antara suami dan istri. Mengapa mereka tidak segera saling meminta maaf dan memaafkan kekurangan pasangan? Mengapa mereka suka membesar-besarkan persoalan yang sebenarnya ringan saja, bukan hal-hal besar?

Jika mereka menganggap ringan saja hal-hal kecil itu, maka mereka akan mudah untuk menyelesaikan setiap persoalan, karena yang paling banyak dijumpai dalam kehidupan suami istri hanyalah persoalan-persoalan kecil.

3. Kesediaan untuk Menyelesaikan Masalah

Kunci penyelesaian masalah suami dan istri ada pada mereka sendiri. Tidak ada orang lain yang bisa menyelesaikan masalah mereka. Konselor juga tidak bisa menyelesaikan masalah mereka, karena konselor hanya memediasi dan memotivasi untuk penyelesaian masalah. Namun yang bisa menyelesaikan permasalahan suami dan istri ya hanya mereka sendiri. Bukan orang lain, bukan orang tua, bukan mertua, bukan saudara, bukan ustadz, bukan kyai, bukan konselor. Mereka berdua yang bisa menyelesaikannya.

Sepanjang suami dan istri mau duduk berdua, membicarakan masalah dengan kelapangan dada, berdialog dengan hati terbuka, mengobrol dalam suasana nyaman dan gembira, menjauhkan diri dari sikap emosi dan gelap mata, maka semua masalah akan mudah dan ringan untuk diselesaikan. Namun jika suami dan istri tidak mau duduk berdua, tidak mau membahas permasalahan dengan hati terbuka, justru mengembangkan sikap saling curiga, menganggap kesalahan hanya ada pada pasangannya, maka selamanya masalah tidak akan pernah bisa selesai.

Semua kembali kepada pribadi suami dan istri. Jika ingin membuat masalah mereka menjadi mudah dan ringan, maka mereka akan mudah dan ringan menyelesaikan setiap permasalahan. Namun jika ingin membuat masalah mereka menjadi susah dan berat, maka mereka pun akan selalu kesulitan keluar dari masalah. Tidak ada yang sulit, kecuali yang memang sengaja kita buat sulit. (Cahyadi Takariawan)

Rabu, 05 Maret 2014

Penuhi Memori dengan Kebaikan Pasangan






Kolom Keluarga-Sangat banyak perbuatan baik yang dilakukan pasangan kepada kita, namun karena dilakukan setiap hari maka cenderung dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja. Cobalah buat daftar kebaikan pasangan, satu per satu ditulis dan diingat-ingat. Ingat, jangan ada yang terlewat. Buatlah daftar kebaikan pasangan, agar kita dengan mudah menghadirkannya dalam ingatan dan selalu menjadi kenangan.

Jika kita menyimpan sebanyak mungkin memori tentang kebaikan pasangan, maka tidak ada sisa tempat lagi bagi memori tentang keburukannya. Jika hati dan pikiran kita selalu mengingat dan menyimpan berbagai hal yang indah bersama pasangan, tidak ada tempat lagi untuk berbagai kisah sedih dan memilukan yang pernah terjadi bersama pasangan.

Mengingat Kebaikan Istri

Isteri memasak setiap hari untuk keperluan keluarga, dianggap hal biasa. Setiap hari istri belanja untuk keperluan keluarga, menyiapkan bahan masakan, memilih menu dan bumbu, kemudian mengolah menjadi masakan siap santap. Aktivitas ini bisa menghabiskan banyak waktu di dapur. Namun sebagian suami menganggap itu semua sebagai kewajiban istri, bukan kebaikan. Maka tidak ada apresiasi positif dan ucapan terimakasih untuk rutinitas memasak yang dilakukan istri.

Istri bersedia hamil sembilan bulan, melahirkan, menyusui dan mengurus anak sejak masih janin, dianggap sudah menjadi kewajibannya sebagai perempuan. Maka tidak ada apresiasi positif dan ucapan terimakasih untuk kesediaan istri mengandung, melahirkan dan mengurus anak tersebut. Padahal jelas itu semua merupakan kebaikan yang luar biasa besarnya.

Jika istri tidak melaksanakan aktivitas praktis kerumahtanggaan karena berbagi dengan pihak lain, misalnya karena di rumah ada pembantu rumah tangga, tentu saja ada banyak kebaikan lain yang dilakukan istri. Tentu saja kebaikan itu tidak hanya memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan lain sebagainya. Ada sangat banyak lahan-lahan kebaikan yang telah dilakukan istri selama ini.

Mengingat Kebaikan Suami

Suami yang setiap hari bekerja keras mencari nafkah adalah kebaikan. Namun karena itu sudah menjadi kegiatannya setiap hari, maka dianggap sebagai hal yang lumrah dan wajar saja. Karena mencari nafkah adalah kewajiban suami, banyak istri yang tidak melihatnya sebagai kebaikan. Maka tidak ada apresiasi positif dan ucapan terimakasih untuk rutinitas mencari nafkah yang dilakukan suami.

Suami berpikir keras untuk mencukupi semua keperluan hidup keluarga, untuk pendidikan anak, untuk jaminan kesehatan, dan berbagai keperluan rekreatif keluarga. Suami melindungi dan menjaga keluarga dari berbagai ancaman serta bahaya. Suami membantu melakukan berbagai kegiatan praktis kerumahtanggaan. Jelas semua itu merupakan kebaikan yang sangat besar.

Jika ada berbagai kelemahan suami dalam hal mencari nafkah, misalnya belum mampu mencukupi semua keperluan hidup berumah tangga, bukan berarti tidak ada kebaikan lainnya pada suami. Sangat banyak lahan dan jenis kebaikan yang telah dilakukan suami selama ini, jangan sampai hilang tertutupi oleh beberapa kekurangan dan kelemahannya.

Melaksanakan Kewajiban dan Peran adalah Kebaikan

Ada banyak orang yang melalaikan dan mengingkari kewajibannya, ada banyak orang yang melarikan diri dari tanggung jawab. Maka tatkala suami atau istri melakukan kewajiban dengan baik, hal itu adalah suatu kebaikan yang sangat besar dan layak diapresiasi secara positif. Padahal, dalam kehidupan berumah tangga, kita tidak selalu memandang segala sesuatu dengan perspektif hak dan kewajiban. Perspektif ini bercorak sangat kaku dan terkesan hitam putih.

Ada perspektif peran, dimana suami dan istri memiliki peran khas dalam posisinya di dalam keluarga. Ketika kita melihat dari perspektif peran sekalipun, kita akan menemukan kesimpulan bahwa orang yang bersedia melakukan perannya adalah orang yang baik. Peran sebagai suami, sebagai ayah, sebagai pemimpin, sebagai pemberi teladan, sebagai pendidik, jika dilakukan dengan penuh kesadaran, tentu merupakan suatu kebaikan yang tak ternilai harganya. Peran sebagai istri, sebagai pelahir generasi, sebagai pengelola rumah tangga, sebagai pendidik anak, jika dilakukan dengan penuh kesadaran, tentu merupakan suatu kebaikan yang tak ternilai harganya.

Sangat Banyak Kebaikan Pasangan

Ada sangat banyak kebaikan pasangan yang telah dilakukan untuk kita selama ini. Sebagiannya kita mengetahui, sebagaian lain lagi bahkan kita tidak mengetahuinya. Suami menjaga rahasia istri, tidak pernah menceritakan kejelekan dan kekurangan istri kepada orang lain, adalah suatu kebaikan suami. Demikian pula ketika istri menjaga rahasia suami, tidak pernah menceritakan kejelekan dan kekurangan suami kepada orang lain, adalah suatu kebaikan istri. Hal seperti ini sering kita abaikan.

Suami tidak menuntut kesempurnaan istri, tidak membebani istri diluar kesanggupannya, jelas merupakan kebaikan suami. Demikian pula ketika istri tidak menuntut kesempurnaan suami, tidak menuntut sesuatu diluar kesanggupan suami, jelas merupakan kebaikan istri. Hal seperti ini juga sering kita abaikan.

Suami bersabar atas kekurangan pelayanan istri, bisa menahan emosi, dan tetap melaksanakan kewajiban dan peran sebagai suami kendati ada kekurangan pelayanan dari istri, jelas merupakan kebaikan suami. Demikian pula jika istri bersabar atas kekurangan perhatian suami, bisa menahan emosi, dan tetap melaksanakan kewajiban dan peran sebagai istri kendati ada kekurangan perhatian dari suami, jelas merupakan kebaikan istri.

Sungguh, sangat banyak kebaikan pasangan kita. Ayo terus mengingat dan menjadikannya sebagai memori terindah dalam hidup bersama pasangan.(Cahyadi Takariawan)

Senin, 20 Januari 2014

7 TANDA KEBAHAGIAAN HIDUP DI DUNIA

7 TANDA KEBAHAGIAAN HIDUP DI DUNIA

1. Qalbun Syakirun
2. Al azwaju shalihah
3. Al Auladun abrar
4. Al bi'atu sholihah
5. Al maalul halalun
6. Tafakuh fiddien
7. Al Umrul Mabruk


Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di masjid. Suatu hari ia ditanya oleh para tabi’in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) kunci kebahagiaan dunia, yaitu:

1. Qalbun syakirun (hati yang selalu bersyukur)

Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat ALLAH SWT, sehingga apapun yang diberikan ALLAH, ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan ALLAH.

Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu, “Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita”. Dan bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya.

2. Al azwaju shalihah (pasangan hidup yang sholeh)

Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholehah, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya.

3. Al auladun abrar (anak yang sholeh)

Saat Rasulullah SAW thawaf, beliau bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet- lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu, “Kenapa pundakmu itu?” Jawab anak muda itu, “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya” Lalu anak muda itu bertanya, ” Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua?”

Nabi SAW memeluk anak muda itu dan mengatakan, “Sungguh ALLAH ridho kepadamu, kamu anak yang sholeh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu” Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang sholeh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan ALLAH.

4. Albiatu sholihah (lingkungan yang kondusif untuk iman kita)

Kita tentu boleh mengenal siapapun, tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat, haruslah orang- orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Sebagaimana Rasulullah yang menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh yang akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah.

5. Al malul halal (harta yang halal)

Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdo’a sudah bagus”, kata Nabi SAW, “Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan?” Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena do’anya akan sangat mudah dikabulkan ALLAH. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hati semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya.

6. Tafakuh fi dien (semangat untuk memahami agama)

ALLAH menjanjikan nikmat bagi umat-NYA yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada ALLAH dan rasul-NYA. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng “hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman.

7. Al-umrul mabruk (umur yang baroqah)

Umur yang baroqah itu adalah umur, yang selalu diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak nostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome).

Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Pencipta. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan ALLAH. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya.


*http://miftakhurriza.blogspot.com/2011/06/7-kunci-kebahagiaan-di-dunia.html

Senin, 14 Oktober 2013

Kiat Hidup Bahagia


 
 
 
Semua manusia yang hidup di bumi ini pastilah ingin bahagia hidupnya, Salah satu syarat orang hidup bahagia itu yaitu jika kita bisa menyelesaikan masalah dalam kehidupan ini. Apa problem kehidupan itu? Sandang, pangan, Papan. Manusia itu akan bahagia jika bisa memakai / membeli pakaian yang pantas dan bagus, Bahagia jika kebutuhan makannya tercukupi, bahagia jika sudah punya tempat tinggal sendiri. Akan tetapi ke 3 kebutuhan tersebut tidaklah cukup! Begitu banyak orang yang sandangnya luar biasa, baju /pakaiannya tidak mau beli di pasar – pasar tradisional belinya harus di mall yang bermerek dan mahal harganya, bagaimana yang makannya tidak mau makan jika tidak makan di restoran, Tempat tinggal yang megah tetapi berakhir dengan bunuh diri. Kesimpulannya sandang, panga , papan tidak semata – mata menjadi kunci kebahagiaan seseorang didunia ini. Kuncinya adalah hati dan perasaan kita. Coba tatkala saat berpuasa waktu berbuka tiba gimana rasanya? Meskipun seteguk teh dan sebiji kurma, begitu nikmat rasanya. Nabi saw bersabda : “Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan; kebahagiaan tatkala ia berbuka dan kebahagiaan tatkala ia bertemu dengan Rabbnya.” (HR.Bukhari no. 6938 dan Muslim no. 1945 Maktabah Syamilah).

Ada sebuah pertanyaan : Fulan : Ustadz Mengapa hidup saya ini kok tidak bahagia, rumah , mobil , motor punya, pekerjaan sudah mapan tapi kok belum bahagia ?

Mari kita telusuri terlebih dahulu penyebabnya , ada 3 penyebab yang menjadikan hidup kita bermasalah Diantaranya yaitu :

1. Kita Sedang Jauh / Bergerak menjauh dari Allah SWT.

Ada sebuah kisah, ada seorang yang punya beberapa konter di salah satu mall di kota Surabaya bertanya kepada kami sebut saja :

Fulan : Ustadz akhir – akhir ini kami mengalami penurunan pendapatan dan kerugian, Kenapa ya ?

Ustadz : Gimana dengan sholat 5 waktu anda ?

Fulan : saya sholat tapi selalu ada yang bolong entah itu shubuhnya atau yang lainnya

Ustadz : Gimana hubungan anda dengan orang tua ?

Fulan : Kebetulan orang tua saya tinggal ayah saja dan hubungan kami baik, tapi dulu sebelum ibu meninggal saya pernah bertikai dengan beliau dan belum minta maaf

Ustadz : Coba perbaiki dulu sholat anda yang 5 waktu itu, dan minta maaflah kepada kedua orang tua anda

Fulan : Bagaimana aku bisa minta maaf kepada ibuku , sedangkan belau sudah tiada?

Ustadz : Berziarahlah dan do’akan ibumu

Sahabat ikadi yang dirahmati Allah swt, Jika kita di landa masalah coba cek ibadah kita, Sebelum kita menyalahkan siapa – siapa coba cek hubungan kita dengan Allah swt. Kebiasaan – kebiasaan sholat jama’ah, Tilawah qur’an, bersedekah dsb apakah sudah memudar atau hilang dari kebiasaan hari – hari kita !…. Nabi saw bersabda : Peliharalah Allah, niscaya Allah akan memeliharamu.

Jadi mari kita jaga sholat kita , tilawah qur’an kita 1 lembar 2 lembar yang penting istiqomah sehingga ibadah kita terjaga dan insya Allah kita juga akan dijaga oleh Allah swt.

2. Kita Punya Salah Kepada Manusia Dan Belum Minta Maaf

Jarang sekali orang yang didzolimi mendo’akan kebaikan kepada yang mendzoliminya dengan do’a : “ Ya allah semoga si fulan Engkau beri hidayah “

Yang ada malah mendo’akan kejelekan misal : “ Hati – hati ya, aku tidak bisa membalas semoga Allah yang membalas kejahatanmu kepadaku “ Hal ini tidak diperkenankan, kita malah dianjurkan untuk saling memaafkan. Jika kita punya salah kepada sanak saudara,teman, tetangga maka kita wajib meminta maaf kepada yang bersangkutan. Ada pertanyaan bagaimana jika kita tidak tau keberadaan dan tidak bisa ketemu dengan yang bersangkutan dan bagaimana pula jika yang bersangkutan tidak mau memaafkan kita? Jika kita tidak tau keberadaannnya maka kita berusaha mencari tahu terlebih dahulu, jika berada diberbeda tempat / tidak memungkinkan ketemu, sekarang banyak fasilitas minta maaf dengan menelpon, sms, email, fb dsbnya. Terus bagaimana yang bersangkutan tidak memaafkan kita? Jika yang bersangkutan tidak mau memaafkan kita itu sudah menjadi urusan dia dengan Allah, kewajiban kita adalah meminta maaf.

Maka kenapa rumah tangga kita kurang harmonis, bisnis bangkrut, anak tidak sukses , masalah datang bertubi – tubi ? karena kita punya salah / dosa kepada manusia yang kita belum minta maaf kepada mereka.

3. Kita Diuji Oleh Allah swt

Jika kita tidak termasuk dari yang diatas, ibadah kita bagus, hubungan kita dengan Allah juga bagus, dengan manusia juga baik tapi kok masih saja ada masalah, itu berarti kita diuji oleh Allah swt. Ingat diuji oleh Allah swt ini adalah urutan ke-3 jangan di tempatkan pada urutan yang pertama jika sholat kita masih belum 5 waktu , jarang tilawah, jarang tahajjud , jarang dhuha, jarang berinfaq dan kurang baik kepada sesama kok ada masalah …! Ini berarti bukan ujian melainkan kita ditegur oleh Allah swt. Jika masalah itu adalah ujian dari Allah swt semoga dengan ujian tersebut dosa – dosa kita diampuni dan diangkat derajat kita oleh Allah swt.

Semoga keterangan diatas membuka pola pikir kita semua agar supaya setiap masalah yang menimpah kita, terlebih dahulu kita muhasabah diri dan bertobat kepada Allah swt.

Wallaahu ‘alam bishshowwab

Sumber : www.ikadisurabaya.org
 
Copyright © 2014 SEKOLAH ISLAMI SIDOARJO.