Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Senin, 13 Mei 2013
Senin, 28 November 2011
SURAT DARI ANAK ASUH LMI
Panggilan saya Niken, lengkapnya Niken Ayu Retnosari. Asal Dsn.Kupang-Kupang RT 02/ RW 02 Jabon, Sidoarjo-Jatim Saya anak Pertama dari 4 bersaudara dan saya duduk di kelas IX SMPN 1 Jabon.
Sejak saya masuk dalam bimbingan LMI. Saya menjadi lebih baik dan sholat saya menjadi lengkap dan tepat waktu. Saya menjadi lebih bangga kepada LMI. Karena meringankan beban kedua orang tua saya karena saya sebagai penerima beasiswa dari para doanatur LMI. Orang tua saya juga mendapatkan pendidikan agama dari Bapak Piradi (Koordinator Mustahik,red) beserta istri. Dan saya sangat berterima kasih kepada LMI yang selalu menomersatukan agama.
Dan bagi saya agamalah yang menuntun saya menuju kebaikan untuk mencapai suatu kesuksesan. Sekali lagi saya ucakan banyak-banyak terima kasih kepada Pendiri LMI, dan segenap Anggota LMI, dan pendukung LMI semuanya. Semoga mendapat lindungan dari Allah SWT. Baik di dunia maupun akhirat. amin Ya Rabbal 'Alamin.
--------- *** ---------
Namaku Mukhammad Khoirul Amin, Aku tinggal di kecamatan Jabon, Sidoarjo. Sejak kelas IX SMP aku mendapatkan bantuan dari LMI yang diajukan oleh wali kelasku Bu Rahmawati.
Awalnya, Aku kira bantuan ini hanya aku dapat saat SMP saja ,karena sebentar lagi aku akan lulus dan meninggalkan sekolah ini. Tetapi Alhamdulillah, LMI memberikan bantuan padaku hingga aku dapat melanjutkan sekolah ke SMKN 1 Bangil.
Aku berasal dari keluarga sederhana. Sejak aku SD aku selalu meluangkan waktuku untuk belajar karena aku tidak ingin waktuku terbuang percuma, alhasil aku mendapatkan juara saat SD. Aku bersyukur karena aku dapat membanggakan orangtuaku meskipun aku berasal dari keluarga biasa. Aku meneruskan hal ini sampai SMP dan akhirnya aku mengenal LMI.
LMI tidak hanya memberikan bantuan kepadaku tetapi juga memberikan pendidikan agama sehingga aku dapat menjadi orang yang berbudi pekerti luhur kelak nanti.
Terima kasih kepada para donatur LMI, karena bantuannya kau dapat terus melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Aku berharap suatu saat nanti aku bisa membantu orang-orang disekitarku, seperti yang dilakukan LMI kepadaku.
Selasa, 22 November 2011
Berbagi Daging Qurban sampai pelosok desa
Alhamdulillah pada tahun ini LMI Cabang Sidoarjo dapat menghimpun 12 ekor sapi dan 124 ekor kambing. Kegiatan Qurban LMI semacam ini Insya Allah akan terus berlanjut untuk lebih meningkatkan kesadaran masyarakat atau ummat Islam untuk berqurban. Dengan meningkatnya jumlah penghimpunan hewan qurban ini menunjukkan kesadaran ummat makin meningkat untuk berqurban. “Sedikit demi sedikit” hilang pendapat sebagian di masyarakat berqurban cukup sekali seumur hidup.
Dengan nama program Kelana Qurban yang dimaksudkan bisa berbagi daging qurban kemana saja, tentu dengan banyaknya hewan Qurban, LMI Cabang Sidoarjo bisa lebih banyak berbagi ke daerah dan desa pelosok secara merata di Sidoarjo, diantaranya daerah rawan aqidah dan desa miskin. Masyarakat Sidoarjo sangat menyambut bahagia dan gembira dengan dibagikan daging qurban LMI Sidoarjo khususnya para dhuafa dan yatim. Semoga tahun depan penghimpunan hewan qurban bisa meningkat lagi dan terimakasih para donator, Ya Allah Tuhanku, dari engkau dan kepada engkau terimalah Qurban para donatur, amiin.
Rabu, 24 Agustus 2011
SKI Indosat mendukung Program Bea Siswa LMI Sidoarjo
SKI Indosat mendukung Program Bea Siswa LMI Sidoarjo
Indosat kian mengukuhkan tekad guna menjadi korporasi yang peduli pada program pendidikan. Bertempat di Gedung Indosat, Jl. Kayun Surabaya, LMI Sidoarjo menerima donasi Program Bea Siswa PINTAR senilai 40.500.000,-. Dana ini diperoleh dari potongan gaji bulanan karyawan Indosat yang terhitung sebagai zakat penghasilan.
Dalam kesempatan ini, Gunung Hari Widodo , Ketua Sie Kerohanian Islam (SKI) Indosat East Java Bali Nusa Tenggara menaruh harapan besar pada program PINTAR yang diusung LMI. ” Kami berharap dana zakat ini punya manfaat besar untuk generasi bangsa sebagai sarana perbaikan pendidikan di negeri ini. Semoga rezeki yang kami peroleh ini lebih barokah dan lancar,” tutur Gunung Hari Widodo
Agung Heru Setiawan, Kepala Cabang LMI Sidoarjo yang hadir dalam kesempatan itu, menyambut antusias harapan seluruh keluarga Indosat. ”Kami selaku lembaga yang diberi amanah akan berusaha optimal guna memberikan yang terbaik. Kerjasama korporasi antara LMI dan Indosat ini sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir, dan semoga LMI bisa memberikan service excellence bagi perusahaan yang selama ini menjadi mitra korporat kami,” kata Agung Heru Setiawan.
Indosat kian mengukuhkan tekad guna menjadi korporasi yang peduli pada program pendidikan. Bertempat di Gedung Indosat, Jl. Kayun Surabaya, LMI Sidoarjo menerima donasi Program Bea Siswa PINTAR senilai 40.500.000,-. Dana ini diperoleh dari potongan gaji bulanan karyawan Indosat yang terhitung sebagai zakat penghasilan.
Dalam kesempatan ini, Gunung Hari Widodo , Ketua Sie Kerohanian Islam (SKI) Indosat East Java Bali Nusa Tenggara menaruh harapan besar pada program PINTAR yang diusung LMI. ” Kami berharap dana zakat ini punya manfaat besar untuk generasi bangsa sebagai sarana perbaikan pendidikan di negeri ini. Semoga rezeki yang kami peroleh ini lebih barokah dan lancar,” tutur Gunung Hari Widodo
Agung Heru Setiawan, Kepala Cabang LMI Sidoarjo yang hadir dalam kesempatan itu, menyambut antusias harapan seluruh keluarga Indosat. ”Kami selaku lembaga yang diberi amanah akan berusaha optimal guna memberikan yang terbaik. Kerjasama korporasi antara LMI dan Indosat ini sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir, dan semoga LMI bisa memberikan service excellence bagi perusahaan yang selama ini menjadi mitra korporat kami,” kata Agung Heru Setiawan.
Senin, 08 Agustus 2011
Bu Mukayatin menderita penyakit jantung dan ginjal
Mukayatin, 40 tahun, tinggal di Dsn. Sumber Rt06 Rw02 Ds. Terik, Krian menderita penyakit jantung dan ginjal, sudah 1 bulan lebih menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo, Bapak Suparno sang suami dengan setia menemani dan mendampingi bu Mukayatin ini.
Ibu 2 anak ini, sebelumnya sudah lama merasakan penyakit tersebut, tapi tidak punya biaya tak bisa membawanya ke rumah sakit. Suaminya yang hanya bekerja sebagai buruh serabutan tentu tak mampu berpenghasilan yang cukup untuk membiayai perawatan ke rumah sakit.
Penyakit yang dideritanya semakin lama semakin menyiksanya, sungguh tiada kuat untuk dirasakannya, akhirnya atas dorongan keluarganya dipaksakan untuk dibawa ke rumah sakit. Selama di rumah sakit itu pula suami juga tidak bisa bekerja karena harus menemani sang istri, sehingga tidak punya biaya untuk perawatan tersebut, padahal biaya yang harus dibayar sangat besar baginya.
Alhamdulillah beberapa tetangga ada yang peduli untuk membantunya, walau tidak besar. Berita ini terdengar relawan LMI sidoarjo Sdr. Rusdiyanto yang kebetulan tetangga. Berita ini menggugah Rusdiyanto untuk menyampaikan pada Kepala Cabang LMI Sidoarjo agar dapat membantu membiayai perawatan dan operasi penyakit bu Mukayatin.
Setelah memenuhi syarat-syarat untuk mendapatkan bantuan biaya perawatan rumah sakit maka LMI Sidoarjo memberikan dana bantuan kepada ibu Mukayatin di rumah sakit melalui Sdr. Rusdiyanto, relawan LMI Sidoarjo korda Krian. Mereka mengaku bahagia dengan bantuan LMI Sidoarjo. “ Tolong sampaikan terimakasih kepada pimpinan LMI Sidoarjo ya atas bantuannya” kata bu Mukayatin kepada Sdr. Rusdiyanto.
Pak Suparno dan ibu Mukayatin tergolong keluarga yang sangat kekurangan, disamping tidak mampu membiayai kesehatan juga anak sulungnya yang lulus SMP tidak bisa melanjutkan sekolah. Masalah ini masih banyak di sekitar kita. Ini menjadi tanggungjawab masyarakat, pemerintah dan kami sebagai lembaga sosial. Kami mohon doa dan partisipasinya semoga LMI mampu membantu masalah-masalah sosial ini.
Rabu, 27 Juli 2011
Kini Istri dan 3 anaknya Om Je butuh bantuan hidup, Mau bantukah Anda???
Terdampar di Sidoarjo, Hidup Berkat Bantuan LMI
[ Senin, 30 Agustus 2010 ] Jawa Pos, halaman 41
Jefri Prima Bolang, Sutradara Si Bolang, yang Terhenti Karirnya karena Kanker
Terdampar di Sidoarjo, Hidup Berkat Bantuan LMI
Kesehatan adalah salah satu karunia terbesar yang harus disyukuri manusia. Tanpa kesehatan yang prima, apa yang dapat dilakukan manusia. Setidaknya, itulah pengalaman hidup yang bisa dipetik dari Jefri Prima Bolang, 44.
AD'HA DIA AGUSTIN (wartawan Jawa Pos) Sidoarjo
MATAHARI bersinar cukup terik siang itu. Saat Jawa Pos tiba di depan teras rumah di Dusun Krembung Barat, Krembung, jarum jam menunjukkan pukul dua siang.
Suasana gerah itu sedikit tak terasa saat telinga menangkap celoteh beberapa anak kecil yang bermain di halaman rumah tersebut. Anak-anak memang selalu menebarkan keceriaan.
Beberapa saat kemudian Jawa Pos dan tim dari Lembaga Manajemen Infak (LMI) disambut oleh wanita setengah baya. Dengan ramah dia mempersilakan kami masuk. Wanita tersebut adalah Ester Wahyuni, 33. Dia adalah istri Jefri Prima Bolang, seniman musik dan juga sutradara.
Jefri Prima Bolang kini bukan lagi seniman yang prima seperti beberapa tahun lalu. Karirnya terpangkas oleh penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Tak berapa lama menunggu, seorang lelaki dengan perawakan kurus keluar menemui kami. Dialah Jefri Prima Bolang. Sosoknya jauh dari gambaran seorang seniman yang sangat berpengaruh dan telah menyutradarai banyak film di TVRI
.
Jefri, antara lain, dikenal sebagai pencetus salah satu reality show Bolang, Bocah Petualang, yang ditayangkan salah satu televisi swasta nasional.
Laki-laki kelahiran Manado 44 tahun silam itu kini tampak kurus. Rambutnya dibiarkan memanjang dengan jenggot panjang yang juga tak terurus.
Sesekali bicaranya tersengal-sengal karena penyakit yang bersarang di tubuhnya. Dokter telah memvonis Jefri mengidap penyakit kanker tenggorokan. ''Kanker ini dikategorikan kanker ganas,'' jelas Agung Heru Setiawan, kepala cabang LMI Sidoarjo.
Kanker tersebut telah menyerang bagian mata dan otaknya sehingga dia tidak dapat melihat. Berkali-kali dia harus meminta maaf kepada Jawa Pos karena tidak dapat mengatakan dan menyelaraskan apa yang ada di pikiran dan perkataannya.
Penderitaan keluarga tersebut tak berhenti pada kondisi kesehatan sang tiang keluarga. Sang istri, Ester Wahyuni, yang diharapkan bisa menggantikan peran Jefri, ternyata tak sepenuhnya bisa diandalkan. Sebab, Ester sendiri harus berjuang melawan penyakit hepatitis.
Karena itulah, ketiga anak mereka, Gebi, 10, Putra, 8, Nanda, 2,5, kini tidak bisa melanjutkan sekolah. Parahnya, si bungsu, Satriya, yang baru lahir 19 Agustus lalu, ternyata mengidap kelainan jantung.
''Sampai saat ini bayi tersebut belum bisa dibawa pulang karena harus dirawat di RSUD dr Soetomo Surabaya,'' ujar Agung.
Sementara itu, Ester tidak bisa menyusui Satriya karena dikhawatirkan penyakit hepatitis yang dideritanya menular kepada anaknya.
Sebelum tinggal di Sidoarjo, keluarga tersebut tinggal di Malang. Karena tak punya biaya hidup, Om Je, panggilan Jefri, memutuskan membawa keluarganya pulang ke kampung halaman di Manado.
Biaya perjalanan ditanggung keluarga besarnya. Namun, dalam perjalanan ke bandara, Om Je diberi pilihan bahwa dia harus kembali ke agama keluarganya, Kristen. Sebelumnya, Om Je dan keluarga merupakan mualaf. ''Saya memilih tinggal di sini walaupun saya serba kekurangan,'' ujarnya sambil meneteskan air mata. Dia ingin anaknya tetap beragama Islam.
Akhirnya, atas uluran seorang warga Bulang, Krembung, dia perbolehkan tinggal di gudang miliknya. Sampai suatu hari dia ditawari bantuan oleh lembaga zakat LMI, ''Saya menganggap itu berkah dari Allah SWT,'' ujar Om Je bersyukur. (c2/ib)
Jefri Prima Bolang, Sutradara Si Bolang, yang Terhenti Karirnya karena Kanker
Terdampar di Sidoarjo, Hidup Berkat Bantuan LMI
Kesehatan adalah salah satu karunia terbesar yang harus disyukuri manusia. Tanpa kesehatan yang prima, apa yang dapat dilakukan manusia. Setidaknya, itulah pengalaman hidup yang bisa dipetik dari Jefri Prima Bolang, 44.
AD'HA DIA AGUSTIN (wartawan Jawa Pos) Sidoarjo
MATAHARI bersinar cukup terik siang itu. Saat Jawa Pos tiba di depan teras rumah di Dusun Krembung Barat, Krembung, jarum jam menunjukkan pukul dua siang.
Suasana gerah itu sedikit tak terasa saat telinga menangkap celoteh beberapa anak kecil yang bermain di halaman rumah tersebut. Anak-anak memang selalu menebarkan keceriaan.
Beberapa saat kemudian Jawa Pos dan tim dari Lembaga Manajemen Infak (LMI) disambut oleh wanita setengah baya. Dengan ramah dia mempersilakan kami masuk. Wanita tersebut adalah Ester Wahyuni, 33. Dia adalah istri Jefri Prima Bolang, seniman musik dan juga sutradara.
Jefri Prima Bolang kini bukan lagi seniman yang prima seperti beberapa tahun lalu. Karirnya terpangkas oleh penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Tak berapa lama menunggu, seorang lelaki dengan perawakan kurus keluar menemui kami. Dialah Jefri Prima Bolang. Sosoknya jauh dari gambaran seorang seniman yang sangat berpengaruh dan telah menyutradarai banyak film di TVRI
.
Jefri, antara lain, dikenal sebagai pencetus salah satu reality show Bolang, Bocah Petualang, yang ditayangkan salah satu televisi swasta nasional.
Laki-laki kelahiran Manado 44 tahun silam itu kini tampak kurus. Rambutnya dibiarkan memanjang dengan jenggot panjang yang juga tak terurus.
Sesekali bicaranya tersengal-sengal karena penyakit yang bersarang di tubuhnya. Dokter telah memvonis Jefri mengidap penyakit kanker tenggorokan. ''Kanker ini dikategorikan kanker ganas,'' jelas Agung Heru Setiawan, kepala cabang LMI Sidoarjo.
Kanker tersebut telah menyerang bagian mata dan otaknya sehingga dia tidak dapat melihat. Berkali-kali dia harus meminta maaf kepada Jawa Pos karena tidak dapat mengatakan dan menyelaraskan apa yang ada di pikiran dan perkataannya.
Penderitaan keluarga tersebut tak berhenti pada kondisi kesehatan sang tiang keluarga. Sang istri, Ester Wahyuni, yang diharapkan bisa menggantikan peran Jefri, ternyata tak sepenuhnya bisa diandalkan. Sebab, Ester sendiri harus berjuang melawan penyakit hepatitis.
Karena itulah, ketiga anak mereka, Gebi, 10, Putra, 8, Nanda, 2,5, kini tidak bisa melanjutkan sekolah. Parahnya, si bungsu, Satriya, yang baru lahir 19 Agustus lalu, ternyata mengidap kelainan jantung.
''Sampai saat ini bayi tersebut belum bisa dibawa pulang karena harus dirawat di RSUD dr Soetomo Surabaya,'' ujar Agung.
Sementara itu, Ester tidak bisa menyusui Satriya karena dikhawatirkan penyakit hepatitis yang dideritanya menular kepada anaknya.
Sebelum tinggal di Sidoarjo, keluarga tersebut tinggal di Malang. Karena tak punya biaya hidup, Om Je, panggilan Jefri, memutuskan membawa keluarganya pulang ke kampung halaman di Manado.
Biaya perjalanan ditanggung keluarga besarnya. Namun, dalam perjalanan ke bandara, Om Je diberi pilihan bahwa dia harus kembali ke agama keluarganya, Kristen. Sebelumnya, Om Je dan keluarga merupakan mualaf. ''Saya memilih tinggal di sini walaupun saya serba kekurangan,'' ujarnya sambil meneteskan air mata. Dia ingin anaknya tetap beragama Islam.
Akhirnya, atas uluran seorang warga Bulang, Krembung, dia perbolehkan tinggal di gudang miliknya. Sampai suatu hari dia ditawari bantuan oleh lembaga zakat LMI, ''Saya menganggap itu berkah dari Allah SWT,'' ujar Om Je bersyukur. (c2/ib)
Pak Jefry disambangi wartawan Jawa Pos Mbak Adha, semoga berkah dan manfaat.
Jefry Prima Bolang, namanya. Pria asal Manado ini, saya kenal nyaris setahun lalu dalam perjumpaan yang jelas telah direncanakan oleh sang Maha Sutradara, Allah SWT.
Omje. Demikian panggilan akrabnya. Perjumpaan saya dengan sosok nyentrik ala “Gombloh” itu diawali dari prolog pertelpon dari seorang sahabat donator LMI, Pak Iksir, namanya. Pak Iksir bilang, waktu itu saya msh beraktivitas di LMI, kalo Omje ini seorang kawan dekatnya, muallaf, yang tengah menderita kanker saluran pernafasan (nasofaring).
Singkat cerita, sore itu –saya lupa waktu definitfnya-, pasca telpon dari pak Iksir, saya pun bertemu dengan Omje di Kantor Nginden Intan no.12. Omje pun datang membawa duka-deritanya, lengkap dengan hasil lab di sebuah Rumah Sakit di Malang, tentang kanker faring yang dideritanya. Termasuk kondisi finansialnya yang ambruk akibat dirinya yang tiada berpenghasilan pasca menderita faring. Selepas Isya, setelah panjang-lebar kisah duka-deritanya, Omje saya sangoni untuk pulang ke rumah kawannya di bilangan Surabaya tengah.
Pasca pertemuan sore itu saya dan Omje nyaris tidak pernah berkomunikasi lagi. Padahal saya “menjanjikannya” solusi untuk masalahnya. Apa sebab? Ya, jelas. Saya dengan “kebodohan” nalar saya begitu berhitung -ala otak kiri- untuk menolong saudara seiman yang tengah goyah akibat duka-deritanya. Waktu itu, hasil lab menyatakan bahwa butuh kemoterapi+penanganan medis lainnya yang berbiaya tinggi. Dan saat itu, LMI tidak memiliki pos dana yang besar untuk kasus Omje. Maka bantuan untuk Omje pun tiada realisasi.
Sampai akhirnya, sekitar bulan Juli, jelang Ramadhan 1431 H, Omje mengirimi saya pesan pendek, yang membuat saya segera bereaksi cepat. Bunyi SMS itu menjelaskan, bahwa posisi dia dan keluarganya saat itu ada di desa Bulang Klepon Sidoarjo. Menumpang gubug salah satu family istrinya. 2 anaknya, Gaby dan Putra pun kehilangan kesempatan bersekolah karena tiada biaya+harus “mengungsi” ke Bulang. Si Kecil Nanda pun tiada mendapat asupan gizi cukup. Diperparah dengan sang istri, Ister Wahyuni tengah hamil tua. Lengkap sudah. Omje sudah tidak sanggup lagi untuk menanggung beban hidupnya bersama keluarganya. Omje benar-benar butuh bantuan!!
Alhamdulillah, dibantu oleh sahabat-sahabat LMI Sidoarjo, Omje+keluarga pun memperoleh tempat tinggal yang lebih layak di daerah Krembung Sidoarjo. Gaby+Putra juga kembali bersekolah. Setelah itu, proses penanganan medis Omje pun berjalan.
++++++++++++++++++
Sahabat,
Omje adalah seorang pujangga-preneur. Selama berinteraksi dengan beliau, saya mendapati dirinya yang berbalut tubuh ringkih, adalah sosok nan kaya akan ide kreatif dan sangat entrepreneur.
Dirinya selalu ingin mencipta karya. Tidak mau bermalas-malasan, meskipun didera kanker ganas. Ada passion yang nyata begitu kuat meletup-letup dalam dirinya untuk berkreasi, yang tak mampu dipendam oleh keringkihan fisiknya.
Setiap bertemu dengannya, Omje selalu menyampaikan gagasan baru+ide2 breakthrough. Beberapa syair lagu pun diciptanya begitu saja, sembari merenung singkat.
Bahkan, ditengah sakitnya, dia bertekad untuk berangkat ke Jakarta, bertemu dengan Ustadz Jefri Al Bukhori (Uje) untuk menyedekahkan syair lagu religinya. Saat itu, jelang Ramadhan. Saat itu, saya termasuk yang “mencegahnya” berangkat ke Jakarta, mengingat kondisi fisiknya yang drop.
Baru selepas Ramadhan 1431H, Omje akhirnya tetap berangkat ke Jakarta untuk merealisasi beberapa ide kreatifnya, sebagai wujud eksistensinya di Bumi Allah.
++++++++++++++++
Sahabat,
kini Omje telah berpulang ke sisi Allah SWT.
Hari ini, Rabu, 9 Maret 2011. Beberapa pesan pendek saya terima di Balckberry saya, dari beberapa sahabat, mengabarkan berita duka tersebut.
Bagi saya,
Kepergiannya ini tidak berarti dia menyerah dengan kondisi fisiknya..
Kepergiannya ini lebih pada memenuhi panggilan Rabb-nya
“Wahai jiwa yang menentramkan, pulanglah engkau kembali kepada Rabb-mu dengan sepenuh keridhaan. Masuklah kamu ke dalam (barisan) hamba-hambaKu. Dan masuklah ke dalam surgaKu. (QS. Al Fajr: 27-30)”.
Dan (mungkin) kepergiannya sekaligus untuk mendampingi putra bungsunya, Satria Jibril, yang meninggal di usia sangat muda, 31 hari, 20 September 2010 lalu (baca note saya: Dan (Jiwa) Satria itu telah berpulang...)
++++++
Allahummaghfirlahu..warhamhu wa'aafihi wa'fu 'anhu
Allahumma laa tahrimnaa ajrohu..wa laa taftinnaa ba'dahu..waghfirlanaa walahu..
Selamat Jalan Omje ...
Serial Entrepreneurship 8: (In Memoriam) Omje Sang Pujangga-preneur
oleh Wahyu Novyan
Omje. Demikian panggilan akrabnya. Perjumpaan saya dengan sosok nyentrik ala “Gombloh” itu diawali dari prolog pertelpon dari seorang sahabat donator LMI, Pak Iksir, namanya. Pak Iksir bilang, waktu itu saya msh beraktivitas di LMI, kalo Omje ini seorang kawan dekatnya, muallaf, yang tengah menderita kanker saluran pernafasan (nasofaring).
Singkat cerita, sore itu –saya lupa waktu definitfnya-, pasca telpon dari pak Iksir, saya pun bertemu dengan Omje di Kantor Nginden Intan no.12. Omje pun datang membawa duka-deritanya, lengkap dengan hasil lab di sebuah Rumah Sakit di Malang, tentang kanker faring yang dideritanya. Termasuk kondisi finansialnya yang ambruk akibat dirinya yang tiada berpenghasilan pasca menderita faring. Selepas Isya, setelah panjang-lebar kisah duka-deritanya, Omje saya sangoni untuk pulang ke rumah kawannya di bilangan Surabaya tengah.
Pasca pertemuan sore itu saya dan Omje nyaris tidak pernah berkomunikasi lagi. Padahal saya “menjanjikannya” solusi untuk masalahnya. Apa sebab? Ya, jelas. Saya dengan “kebodohan” nalar saya begitu berhitung -ala otak kiri- untuk menolong saudara seiman yang tengah goyah akibat duka-deritanya. Waktu itu, hasil lab menyatakan bahwa butuh kemoterapi+penanganan medis lainnya yang berbiaya tinggi. Dan saat itu, LMI tidak memiliki pos dana yang besar untuk kasus Omje. Maka bantuan untuk Omje pun tiada realisasi.
Sampai akhirnya, sekitar bulan Juli, jelang Ramadhan 1431 H, Omje mengirimi saya pesan pendek, yang membuat saya segera bereaksi cepat. Bunyi SMS itu menjelaskan, bahwa posisi dia dan keluarganya saat itu ada di desa Bulang Klepon Sidoarjo. Menumpang gubug salah satu family istrinya. 2 anaknya, Gaby dan Putra pun kehilangan kesempatan bersekolah karena tiada biaya+harus “mengungsi” ke Bulang. Si Kecil Nanda pun tiada mendapat asupan gizi cukup. Diperparah dengan sang istri, Ister Wahyuni tengah hamil tua. Lengkap sudah. Omje sudah tidak sanggup lagi untuk menanggung beban hidupnya bersama keluarganya. Omje benar-benar butuh bantuan!!
Alhamdulillah, dibantu oleh sahabat-sahabat LMI Sidoarjo, Omje+keluarga pun memperoleh tempat tinggal yang lebih layak di daerah Krembung Sidoarjo. Gaby+Putra juga kembali bersekolah. Setelah itu, proses penanganan medis Omje pun berjalan.
++++++++++++++++++
Sahabat,
Omje adalah seorang pujangga-preneur. Selama berinteraksi dengan beliau, saya mendapati dirinya yang berbalut tubuh ringkih, adalah sosok nan kaya akan ide kreatif dan sangat entrepreneur.
Dirinya selalu ingin mencipta karya. Tidak mau bermalas-malasan, meskipun didera kanker ganas. Ada passion yang nyata begitu kuat meletup-letup dalam dirinya untuk berkreasi, yang tak mampu dipendam oleh keringkihan fisiknya.
Setiap bertemu dengannya, Omje selalu menyampaikan gagasan baru+ide2 breakthrough. Beberapa syair lagu pun diciptanya begitu saja, sembari merenung singkat.
Bahkan, ditengah sakitnya, dia bertekad untuk berangkat ke Jakarta, bertemu dengan Ustadz Jefri Al Bukhori (Uje) untuk menyedekahkan syair lagu religinya. Saat itu, jelang Ramadhan. Saat itu, saya termasuk yang “mencegahnya” berangkat ke Jakarta, mengingat kondisi fisiknya yang drop.
Baru selepas Ramadhan 1431H, Omje akhirnya tetap berangkat ke Jakarta untuk merealisasi beberapa ide kreatifnya, sebagai wujud eksistensinya di Bumi Allah.
++++++++++++++++
Sahabat,
kini Omje telah berpulang ke sisi Allah SWT.
Hari ini, Rabu, 9 Maret 2011. Beberapa pesan pendek saya terima di Balckberry saya, dari beberapa sahabat, mengabarkan berita duka tersebut.
Bagi saya,
Kepergiannya ini tidak berarti dia menyerah dengan kondisi fisiknya..
Kepergiannya ini lebih pada memenuhi panggilan Rabb-nya
“Wahai jiwa yang menentramkan, pulanglah engkau kembali kepada Rabb-mu dengan sepenuh keridhaan. Masuklah kamu ke dalam (barisan) hamba-hambaKu. Dan masuklah ke dalam surgaKu. (QS. Al Fajr: 27-30)”.
Dan (mungkin) kepergiannya sekaligus untuk mendampingi putra bungsunya, Satria Jibril, yang meninggal di usia sangat muda, 31 hari, 20 September 2010 lalu (baca note saya: Dan (Jiwa) Satria itu telah berpulang...)
++++++
Allahummaghfirlahu..warhamhu wa'aafihi wa'fu 'anhu
Allahumma laa tahrimnaa ajrohu..wa laa taftinnaa ba'dahu..waghfirlanaa walahu..
Selamat Jalan Omje ...
Saya ingin bermanfaat bagi banyak orang...
Sosoknya sederhana dan ramah, senyum yang diberikannya tak pelak membuat lawan bicaranya merasa enjoy saat berbicara dengannya. Itulah sosok seorang Triawan A.H, SE Marketing Manajer Ramayana Dept Store Jawa Timur
“Saya memang tidak bisa marah, kalaupun bisa marah paling hanya nada bicara yang ditegaskan, itupun kalau pas memberikan penekanan arahan kerja pada anak buah,” kata Triawan sambil tersenyum.
Toh, meski ia sifatnya yang low profile, tapi di mata para stafnya, Triawan dikenal tegas. “Bapak memang tidak pernah marah, orangnya selalu senyum. Tapi ia tegas. Makanya kami di sini nyaman dengan kepemimpinannya,” ungkap salah satu karyawan memberikan penilaian.
Merintis karir dari nol membuat dirinya tak sombong dan mau mengayomi para bawahannya. Tapi jangan salah, Triawan bukanlah sosok yang lembek. Ia punya mental tangguh sebagai pekerja keras. Dengan modal kerja keras dan keuletannya itulah, akhirnya ia mampu mencapai pucuk pimpinan Marketing di Ramayana Dept Store Jawa Timur, yang kantor kerjanya di Ramayana Sidoarjo.
Alumnus Universitas Muhammadiyah Jember ini mempunyai keteguhan hati dalam prinsip hidupnya. “Hidup dibuat enjoy aja deh, tapi senantiasa bersyukur kepada Allah swt atas segala karunianya.” Katanya. Menurutnya hidup senantiasa berusaha mengikuti jalan yang ditentukan oleh agama, sehingga pekerjaan yang kita geluti tetap membawa keberkahan untuk diri dan keluarga.
Meski sudah malang melintang berkarir, tapi ia tetap rendah hati. Ia merasa semua pengalamannya mulai dari level bawah hingga ke top manager di Ramayana harus dibagi dengan para anak buahnya. “Supaya mereka bisa termotivasi dan tidak patah semangat untuk bekerja. Inikan juga bagian dalam transformasi ilmu, bagus untuk perusahaan,” katanya sambil tertawa.
“Saya ingin bermanfaat bagi banyak orang,” terang ayah Farel Alif Putra Iwanta, makanya Donatur LMI Sidoarjo ini menganjurkan untuk banyak- banyak bersedekah, dengan bersedekah hidup terasa lebih baik. Allah telah memberikan banyak hikmah dalam kehidupannya, Triawan yang tinggal di Puri Surya Jaya Nagoya Grand E3/20 Gedangan ini pernah terbaring sakit parah tetapi Allah begitu sayang padanya dengan diberi kesempatan untuk dapat kembali beraktivitas dengan sehat. Demikian pula Allah sangat memperhatikan doa-doa hambanya. Triawan terus berdoa agar segera diberi momongan, semenjak menikahi Rita Indarti P, SE. beberapa tahun menunggu sang bayi akhirnya dikabulkan Allah swt. Baginya ini anugrah terindah dalam hidupnya.
Di sela-sela kesibukannya Triawan juga gemar bermain musik. Untuk menyalurkan hobinya yang satu ini, ia tak sungkan-sungkan bermain musik bersama teman-temannya. ”Wah, kalau sudah begitu, rasanya kepenatan saya bekerja bisa hilang, dan kembali termotivasi untuk terus bermanfaat bagi orang banyak,” ucap pria kelahiran Surabaya ini.
Rabu, 06 Juli 2011
Pondok Pesantren korban Lapindo
Santri Bertahan Hidup dan Belajar di Tempat yang Kurang Layak
Tahun 2006 merupakan tahun bersejarah bagi masyarakat Porong dan sekitarnya. Tepatnya 19 Agustus 2006, lumpur panas yang keluar dari bekas pengeboran PT. Minarak Lapindo secara perlahan telah menenggelamkan bangunan-bangunan di atasnya. Termasuk Pondok Pesantren Abil Hasan. Pondok pesantren peninggalan K. H. Anas Al-Ayyubi ini dulunya memiliki sarana dan prasarananya yang lengkap termasuk usaha peternakan dan perkebunan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, karena terendam oleh Lumpur Lapindo, maka pondok pesantren yang memiliki santri sekitar 500 orang ini pindah ke Desa Weringinanom Kecamatan Ploso Krembung – Sidoarjo.
Dikarenakan pindah lokasi dan dana operasional terbatas, maka santri yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Abil Hasan sedikit demi sedikit berkurang jumlahnya. Setelah hampir 5 tahun, santri pondok pesantren yang saat ini diasuh oleh Gus H. M. Maksum Zuber (menantu K. H. Anas Al-Ayyubi) hanya berjumlah 61 orang, terdiri dari 32 orang laki-laki dan 29 perempuan. Mereka menempati rumah panggung yang berdinding triplek. Selain sebagai kamar tidur, bangunan ini juga difungsikan untuk tempat belajar mengajar pendidikan formal, yakni MTs dan MA.
Meskipun dengan fasilitas minim, para santri tidak kehilangan semangat untuk mengikuti berbagai kegiatan pondok, yaitu sekolah, mengaji, dan ekstrakurikuler seperti albanjari, english class, belajar pidato, kreatifitas mading, dan lain-lain. Bahkan beberapa santri juga pernah menorehkan prestasi, antara lain juara lomba hafalan Al-Qur’an 30 juz tingkat provinsi, lomba baca puisi, pidato serta cerdas cermat tingkat kecamatan dan kabupaten.
Mengenai ganti rugi yang dijanjikan PT. Minarak Lapindo, sampai saat ini belum ada kejelasan karena lokasi yang akan ditempati masih berupa lahan kosong.
Melihat kondisi ini, LMI (Lembaga Manajemen Infaq) tergerak untuk menyalurkan dana bantuan kepada Pondok Pesantren Abil Hasan. Bantuan ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pondok pesantren. Mudah-mudahan Pondok Pesantren Abil Hasan bisa kembali seperti dulu lagi. Memiliki santri banyak dan menempati tempat yang layak. Amin.
Melihat kondisi ini, LMI (Lembaga Manajemen Infaq) tergerak untuk menyalurkan dana bantuan kepada Pondok Pesantren Abil Hasan. Bantuan ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pondok pesantren. Mudah-mudahan Pondok Pesantren Abil Hasan bisa kembali seperti dulu lagi. Memiliki santri banyak dan menempati tempat yang layak. Amin.
Para donatur yang dirahmati Allah, dana yang Anda titipkan ke LMI, sebagiannya telah kami salurkan kepada korban bencana lumpur Lapindo, Pondok Pesantren Abil Hasan. Mudah-mudahan amal kebaikan kita semua dapat mengantarkan kita ke surga Allah swt. Amin.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)




